Skip to main content

Betapa saling menghargai sangat penting.


Dalam segala jenis hubungan sesama manusia, sikap saling menghargai harus dimiliki oleh setiap orang. Entah itu hubungan pertemanan, partner kerja, apalagi hal yang lebih intens seperti pasangan dan keluarga.

Sikap saling menghargai bisa dijadikan sebagai salah satu indikator kedewasaan seseorang. Ketika kita tidak hanya menghargai segala hal yang menyangkut diri sendiri, tetapi mencoba untuk lebih membuka hati untuk menerima segala hal yang menyangkut orang lain. Entah itu pendapatnya, pilihannya, atau tentang bagaimana ia memandang kehidupan ini. 

Hal ini, mau tidak mau akan menggiring seseorang untuk menjadi lebih open–minded. Sehingga ketika orang lain melakukan perbincangan dengannya terasa mengalir begitu saja. Tidak ada saling adu argumentasi yang berujung pada pertengkaran atau saling menjatuhkan. Justru setiap perbincangan akan menghasilkan sebuah solusi baru.

Dulu sekali, ketika saya baru memasuki usia remaja, kira-kira saat masih duduk di bangku SMA. Jika saya bandingkan dengan hari ini, saya benar-benar merasakan perbedaan pola pikir yang saya miliki. Terlebih tentang bagaimana melihat orang lain, menyikapi perbedaan pada orang lain yang bertentangan dengan diri sendiri.

Dulu saya cenderung akan memaksakan pendapat saya sebagai satu-satunya yang benar dan orang lain sudah tentu salah (kekanak-kanakan sekali :D). Tetapi ternyata hal seperti itu adalah sifat kekanak-kanakan yang tidak seharusnya saya pelihara. Setelah bertemu dengan banyak orang, melewati banyak hal, akhirnya saya mengerti bahwa menjadi seseorang yang berusaha untuk saling menghargai adalah pekerjaan hidup yang dapat mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan jiwa. 

Terlebih lagi untuk kaum milenial yang usianya sudah dimulai dengan angka 2. Sudah sepatutnya kematangan usia dibarengi juga dengan usaha kita untuk matang dalam bersikap, matang dalam menjalin hubungan sesama manusia dalam kehidupan. Karena hal sederhana ini tidak hanya akan berpengaruh pada diri kita sendiri, tetapi juga orang lain yang melakukan interaksi dengan kita.

Jauh sebelum hari ini, sudah ada figur luar biasa yang sudah mencontohkan kepada kita semua tentang bagaimana seharusnya menjalin hubungan yang baik sesama manusia (hablumminannaas). Terlebih lagi tentang sikap saling menghargai satu sama lain. 

Semoga kita selalu bersikap dan berbuat seolah-olah ada Nabi di depan kita, sehingga tiap gerak-geriknya selalu berusaha kita ikuti. Setidaknya orang lain dapat melihat keagungan ajaran Islam yang tercermin dari sikap kita yang selalu berusaha menjaga hubungan baik sesama manusia.


Comments

Popular posts from this blog

Belajar tentang keberanian dari Fathimah binti Khattab dan Malala Yousafzai

Kalian pasti pernah membaca kisah heroik Fatimah binti Khattab ketika berhadapan dengan lelaki bertubuh kekar yang hatinya dipenuhi amarah; Umar bin Khattab. Kala itu ia datang dengan sebilah pedang yang diikat di pinggangnya, dengan tujuan untuk memenggal kepala Fatimah yang berani menentang agama nenek moyangnya.  Tiba-tiba saja pukulan keras menghantam wajah wanita yang hatinya dipenuhi cahaya iman itu. Berdarah-darah wajahnya, sambil meringis dalam tangis menahan kesakitan. Tapi ia tetap  berdiri, menghadapkan wajahnya pada lelaki berwajah kejam penuh kemarahan. Pernah gak? Kamu membaca kisah keberanian seorang gadis kecil tanpa dosa. Ketika ia memperjuangkan hak yang seharusnya ia dapatkan; pendidikan. Di hadapan kawan-kawannya, sebuah peluru dari seorang tentara Taliban mendarat tepat di bagian kepalanya. Kala itu, semua orang berpikir ia akan mati. Tapi takdir berkehendak lain. Ia hidup kembali.  Kau tahu? Apa yang dilakukannya setelah itu? Bukan! Bukan...