Skip to main content

Mengemban amanah paling mulia


Selalu melekat dalam ingatan wanita muslimah bahwa tanggung jawab seorang perempuan setelah berkeluarga tidak hanya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, tetapi telah merangkap memiliki tanggung jawab sebagai istri dan Ibu ketika sudah dikaruniai buah hati. Tanggung jawab seorang Ibu dalam membina dan mendidik kepribadian anak lebih besar dibandingkan dengan tanggung jawab seorang Ayah. Bagaimana tidak, seorang Ibu memiliki intensitas waktu yang jauh lebih banyak untuk berinteraksi dengan anak di rumah dibandingkan dengan Ayah yang memiliki tanggung jawab lain mencari nafkah. Maka jika sang Ibu memiliki akhlak dan kepribadian yang mulia, tentu anak-anak mereka akan tumbuh dan berkembang dengan baik dalam asuhannya. 
Begitu banyak tercatat dalam sejarah tentang jejak kiprah para Ibu luar biasa yang mampu melahirkan pribadi-pribadi berlian yang cahayanya terus berpendar menerangi sejarah umat manusia. Sebut saja Imam Asy-Syafi`i, adalah seorang yatim sejak masa belia, namun beliau memiliki support system yang senantiasa mendorong dan menyemangati tiap langkahnya dalam memburu ilmu, sehingga detik ini namanya begitu masyhur dalam dunia keilmuan dan karyanya menjadi sumber rujukan bagi jiwa-jiwa yang haus akan ilmu pengetahuan.
“Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, bila engkau mempersiapkannya maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.”
Menjadi Ibu adalah anugerah terbaik bagi perempuan, yang harus disyukuri dengan mempersiapkan kedatangan masa itu dengan sebaik-baik persiapan. Agar ketika amanah itu telah tiba, jiwa dan raga kita sudah benar-benar siap untuk menjalankannya. Menjadi Ibu mengajarkan kepada kaum perempuan tentang cinta yang tidak berbatas waktu. Tentang pengorbanan yang tidak mengharapkan imbalan. Tentang keikhlasan untuk memberikan segala yang kita miliki tanpa pamrih dan perhitungan. Menjadi Ibu, memang tanggung jawab yang luar biasa besar. Di pundaknya terpaut amanah umat untuk mendidik generasi yang berakhlak mulia. Untuk itu membutuhkan perjuangan yang tidak sebentar dan tidak dipungkiri bahwa hari-harinya akan diliputi berbagai kelelahan dan keletihan. 
“Menjadi Ibu berarti kita telah setuju untuk mengambil keputusan mencintai orang lain lebih banyak dibandingkan mencintai diri kita sendiri” --Dewi Nur Aisyah
Maka tak heran, jika surga seorang anak diletakkan di bawah kakinya. Ridha Allah ditautkan dengan keridhaannya. Islam menjunjung tinggi kedudukannya sebagai orang pertama yang berhak  mendapat perlakuan terbaik dibandingkan manusia yang lain. 
Menjadi Ibu terbaik berarti mendidik diri kita (perempuan) untuk menjadi generasi pembelajar yang tak pernah puas ketika telah selesai dari mempelajari satu hal. Karena menjadi Ibu berarti mengambil keputusan untuk menjadi bagian dari para pembaharu peradaban. Dalam genggamannya, masa depan peradaban itu berada. Dalam asuhan didikannya kemajuan atau kemunduran suatu generasi ditentukan. Lewat lembut sentuhannyalah kertas-kertas putih nan suci yang baru terlahir itu akan terwarnai dengan tinta keimanan dan akhlak mulia. 
Lantas, mudahkah untuk mengemban amanah itu? Bagaimanapun kita berusaha untuk  menyederhanakannya, mengemban amanah ‘menjadi Ibu’ tidak pernah benar-benar sederhana. Ada begitu banyak peluh lelah yang akan terus mengalir setiap hari. Ada kesabaran dan keikhlasan yang harus ditempa setiap waktu. Ada kegigihan yang tidak boleh melemah untuk mendidik dengan sepenuh iman dan kasih sayang. Ada iman yang harus senantiasa dipupuk agar hati tak pernah terhinggapi kesombongan. Dan ada begitu banyak persiapan yang harus dipersipakan dengan benar-benar matang. Agar kelak (mereka) lahir dari rahim yang suci, dan tumbuh dalam lingkungan yang membantunya menjadi insan yang bertakwa di kemudian hari. Menjadi seseorang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya serta dirindukan kebermanfaatannya bagi umat manusia.
Tugas utama seorang Ibu adalah memilihkan metode pendidikan yang terbaik bagi anak anaknya. Mewarnai hari mereka dengan nilai-nilai Al Qur`an. Karena dari sanalah mereka akan belajar dan memahami nilai-nilai yang berhubungan dengan hidupnya. Bermula dengan belajar mengenal dirinya sendiri, untuk apa dan tujuan akhir hidupnya. Menghiasi setiap harinya dengan lantunan syahdu kalam-Nya. Tidak hanya memfasisilitasi mereka untuk belajar ilmu dunia, tetapi juga mempelajari ilmu agama demi kebahagiaan akhiratnya. 

Comments

Popular posts from this blog

Belajar tentang keberanian dari Fathimah binti Khattab dan Malala Yousafzai

Kalian pasti pernah membaca kisah heroik Fatimah binti Khattab ketika berhadapan dengan lelaki bertubuh kekar yang hatinya dipenuhi amarah; Umar bin Khattab. Kala itu ia datang dengan sebilah pedang yang diikat di pinggangnya, dengan tujuan untuk memenggal kepala Fatimah yang berani menentang agama nenek moyangnya.  Tiba-tiba saja pukulan keras menghantam wajah wanita yang hatinya dipenuhi cahaya iman itu. Berdarah-darah wajahnya, sambil meringis dalam tangis menahan kesakitan. Tapi ia tetap  berdiri, menghadapkan wajahnya pada lelaki berwajah kejam penuh kemarahan. Pernah gak? Kamu membaca kisah keberanian seorang gadis kecil tanpa dosa. Ketika ia memperjuangkan hak yang seharusnya ia dapatkan; pendidikan. Di hadapan kawan-kawannya, sebuah peluru dari seorang tentara Taliban mendarat tepat di bagian kepalanya. Kala itu, semua orang berpikir ia akan mati. Tapi takdir berkehendak lain. Ia hidup kembali.  Kau tahu? Apa yang dilakukannya setelah itu? Bukan! Bukan...